Klik berikutnya untuk membaca poin-poin utama keselamatan kerja.
UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja mendefinisikan: | Istilah | Siapa? | Tanggung Jawab | |||| | Pengusaha | Pemilik usaha, direktur utama, pemegang saham pengendali | Tanggung jawab penuh dan final — tidak bisa didelegasikan | | Pengurus | Manajer, supervisor, kepala bagian yang memimpin langsung | Pelaksana harian K3 — bisa kena pidana jika lalai | [!WARNING] Kesalahan umum: Banyak perusahaan mengira begitu menunjuk Manajer K3 atau Ahli K3 Umum (AK3U), tanggung jawab "sudah selesai.
| Aspek K3 | Pengusaha | Pengurus | |||| | Kebijakan K3 | Menetapkan dan menandatangani | Menyusun draf dan menjalankan | | Anggaran K3 | Menyetujui | Mengajukan kebutuhan | | P2K3 | Ketua (biasanya puncak pimpinan) | Sekretaris dan anggota aktif | | APD | Wajib menyediakan gratis | Memastikan dipakai dan dirawat | | Pelaporan kecelakaan | Bertanggung jawab ke Disnaker | Membuat laporan 2x24 jam | | Sanksi pidana | Bisa kena UU Ketenagakerjaan | Bisa kena KUHP jika terbukti lalai | Di pabrik baja tempat saya bekerja, pengurus lapangan (manager produksi) yang paling sering "dipanggil" saat ada inspeksi K3 mendadak. Tapi ketika ada temuan fatal — seperti operator tanpa APD lengkap — Disnaker memanggil direktur utama.
| Masalah Umum | Kenapa Terjadi | Solusi | |||| | P2K3 cuma formalitas | Pengurus tidak diberi wewenang anggaran | Libatkan pengusaha dalam rapat P2K3 minimal 3 bulan sekali | | Supervisor disalahkan sendirian | Tidak ada SOP yang jelas | SOP tertulis + tanda tangan pengusaha sebagai bentuk komitmen | | K3 dianggap "urusan HRD/HSE doang" | Tidak ada KPI K3 untuk semua manajer | Masukkan K3 sebagai KPI seluruh lini manajemen |.
Baca panduan mendalam secara utuh di situs dwik.web.id. Klik tombol di bawah ini untuk menuju artikel lengkap.
Baca Selengkapnya 🚀